BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Manajemen karir adalah proses pengelolaan
karir pegawai yang meliputi tahapan kegiatan perencanaan karir, pengembangan
dan konseling karir, serta pengambilan keputusan karir. Manajemen karir
melibatkan semua pihak termasuk pegawai yang bersangkutan dengan unit tempat si
pegawai bekerja, dan organisasi secara keseluruhan.
Perencanaan
karir adalah perencanaan yang dilakukan baik oleh individu pegawai maupun oleh
organisasi berkenaan dengan karir pegawai, terutama mengenai persiapan yang
harus dipenuhi seorang pegawai untuk mencapai tujuan karir tertentu. Yang perlu
digarisbawahi, perencanaan karir pegawai harus dilakukan oleh kedua belah pihak
yaitu pegawai yang bersangkutan dan organisasi. Jika tidak, maka perencanaan
karir pegawai tidak akan menghasilkan rencana yang baik dan realistis.
Pengembangan karir adalah proses
mengidentifikasi potensi karir pegawai, dan materi serta menerapkan cara-cara
yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut. Secara umum, proses pengembangan
karir dimulai dengan mengevaluasi kinerja pegawai. Proses ini lazim disebut
sebagai penilaian kinerja (performance appraisal). Dari hasil penelitian
kinerja ini kita mendapatkan masukan yang menggambarkan profil kemampuan
pegawai (baik potensinya maupun kinerja aktualnya). Dari masukan inilah kita
mengidentifikasi berbagai metode untuk mengembangkan potensi yang bersangkutan.
B.
Rumusan
Masalah
Adapun materi yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut:
1.
Apakah
yang dimaksud dengan Manajement Kinerja?
2.
Apa
manfaat dan metode-metode penilaian
kinerja?
3.
Apakah
yang dimaksud perencanaan karir?
4.
Bagaimana
cara mengelolah dan mengembangkan karir?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Manajement Kinerja
Kata
Manajemen Kinerja merupakan penggabungan dari kata manajemen dan kinerja.
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti mengatur. Menurut George R
Terry dalam bukunya Principles of Management, Manajemen merupakan suatu proses
yang menggunakan metode ilmu dan seni untuk menerapkan fungsi-fungsi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian pada
kegiatan-kegiatan dari sekelompok manusia yang dilengkapi dengan sumber daya
atau faktor produksi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan lebih dahulu,
secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut John R Schermerhorn Jr dalam
bukunya Management, manajemen adalah proses yang mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian terhadap penggunaan sumber daya
yang dimiliki, baik manusia dan material untuk mencapai tujuan.
Dari
beberapa definisi manajemen yang diberikan oleh para ahli, dapat disimpulkan
manajemen mencakup tiga aspek, yaitu:
a. Pertama :
manajemen sebagai proses
b. Kedua :
adanya tujuan yang telah ditetapkan
c. Ketiga :
mencapai tujuan secara efektif dan efisien
Pengertian
Kinerja menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
Ø Kata kinerja
merupakan singkatan dari kinetika energi kerja yang padanannya dalam bahasa
Inggris adalah performance, yang sering diindonesiakan menjadi kata performa.
(Wirawan, 2009)
Ø
Kinerja
merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian
serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps, 1992)
Ø
Kinerja
merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja
(Griffin, 1987)
Ø
Kinerja
merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. Untuk menyelesaikan tugas
atau pekerjaan seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan
tertentu. Kesediaan dan ketrampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk
mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan
dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard, 1993)
Ø
Kinerja
merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kinerja dinyatakan baik dan sukses
jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donelly, Gibson and
Ivancevich, 1994)
Ø
Kinerja
sebagai kualitas dan kuantitas pencapaian tugas-tugas, baik yang dilakukan oleh
individu, kelompok maupun perusahaan (Schermerhorn, Hunt and Osborn, 1991)
Ø
Kinerja
sebagai fungsi interaksi antara kemampuan (Ability=A), motivasi (motivation=M)
dan kesempatan (Opportunity=O) atau Kinerja = ƒ(A x M x O); artinya: kinerja
merupakan fungsi dari kemampuan, motivasi dan kesempatan (Robbins,1996)
Dengan
demikian, kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk
melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung
jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.
Dari
kedua kata manajemen dan kinerja, jika digabungkan menjadi satu kata baru yaitu
Manajemen Kinerja (Performance Management). Beberapa definisi diungkapkan oleh
para ahli sebagai berikut: (Wibowo, 2007)
Ø Manejemen
kinerja sebagai proses komunikasi yang dilakukan secara terus menerus dalam
kemitraan antara karyawan dengan atasan langsungnya. Proses komunikasi ini
meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai
pekerjaan yang akan dilakukan (Bacal, 1994).
Ø Manajemen
kinerja sebagai sarana untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari organisasi,
tim dan individu dengan cara memahami dan mengelola kinerja dalam suatu
kerangka tujuan, standar, dan persyaratan-persyaratan atribut yang disepakati
(Armstrong, 2004).
Ø Manajemen
kinerja merupakan gaya manajemen yang dasarnya adalah komunikasi terbuka antara
manajer dan karyawan yang menyangkut penetapan tujuan, memberikan umpan balik
baik dari manajer kepada karyawan maupun sebaliknya (Schwartz, 1999)
Ø Manajemen
kinerja merupakan dasar dan kekuatan pendiring yang berada di belakang semua
keputusan organisasi, usaha kerja dan alokasi sumberdaya (Costello, 1994)
Dengan memperhatikan pendapat
para ahli, maka dapat dirumuskan bahwa pada dasarnya manajemen kinerja
merupakan gaya manajemen dalam mengelola sumberdaya yang berorientasi pada
kinerja yang melakukan proses komunikasi secara terbuka dan berkelanjutan
dengan menciptakan visi bersama dan pendekatan strategis serta terpadu sebagai
kekuatan pendorong untuk mencapai tujuan organisasi.
B.
Definisi
dan Manfaat Penilain Kinerja
Penilaian kinerja atau performance
appraisal adalah sebuah proses di mana perusahaan melakukan evaluasi dan
penilaian kinerja individu setiap pekerjaannya.
Penilaian kinerja memiliki beberapa
tujuan. Menurut Robbins, tujuan penilaian kinerja adalah sebagai berikut :
·
Membuat
keputusan dalam manajemen SDM seperti promosi, transfer, dan pemecatan.
·
Mengidentifikasi
kebutuhan akan pelatihan dan pengembangan.
·
Memvalidasi
program seleksi dan pengembangan.
·
Memberikan
umpan balik kepada pekerjaan atas kinerjanya.
·
Dasar
untuk penentuan keputusan alokasi remunerasi.
Perusahaan, khususnya Departemen HR,
akan menggunakan hasil dari penilaian kinerja ini sebagai informasi dasar yang
akan digunakan untuk mengevaluasi keefektifan dan kesuksesan berbagai kebijakan
sumber daya manusia mulai dari proses rekrutmen, seleksi, orientasi,
penempatan, pelatihan, dan berbagai proses lainnya.
Menurut Werther dan Davis, hasil
survei mengungkapkan bahwa penggunaan informasi hasil penilaian kinerja 74,9%
digunakan untuk kepentigan dalam penyusunan kebijakan kompensasi , 48% untuk
peningkatan kinerja, 40,4% sebgai bahan umpan balik untuk pekerja, 40,1% untuk
penentuan kebijakan penempatan karyawan, dan sisanya sabesar 30,2% digunkan
sebagai dokumentasi untuk mencatat kinerja pekerja selama periode tertentu.
C. Elemen Penilain
Kinerja
Dalam
prosen penilaian kinerja, ada beberapa elemen penting yang menjadi dasar pokok
dari proses ini. Elemen penilaian kinerja inilah yang akan menentukan
efektivitas sistem evaluasi kinerja.
![]() |

Proses
penilaian kinerja harus mampu mengindentifikasikan standard-standard kinerja,
mampu mengukur kriteria-kriteria yang digunakan untuk melakukan penilaian, dan
mampu memberikan memberikan umpan blaik kepada pekerja mengenai hasil
penilaiannya guna meningkatkan kinerja di masa yang akan dating dan
memperbaiki kinerja yang dianggap tidak
sesuai dengan standard.
Element
pertama yang mendasari proses penilaian kinerja adalah penentuan
standard-standard kinerja (performance standar seting). Standard kinerja
sendiri didefinisikan sebagai patokan-patokan yang akan digunakan sebagai dasar
penelitian kinerja aktual individu. Sebagai contoh adalah mampu memenuhi target
penjualan.
Element
kedua adlah pengukuran kinerja (performance measure) yang didefinisikan sebagai
rating atau angka yang digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kinerja
seorang pekerja. Misalkan, standard kinerja seorang sales adalah mencapai
target penjualan 10 juta perbulan. Artinya jika ia mencapai standard itu, maka
dia mendapatkan nilai 100. Jika misalkan hanya mampu mencapai penjualan 8 juta
maka nilainya 80. Angka-angka 0-100 itulah yang disebut sebagai ukuran-ukuran
kinerja yang berguna sebagai penilaian akan kinerjanya dalam mencapai angka
penjualan.
Element
terakhir adalah pemberian umpan balik yang diberikan kepada pekerja sebagai
hasil dari penilaian mereka. Ini berkaitan dengan hal-hal apa ynag akan harus
ditingkatkan, standard apa yang belum terpenuhi , dan keberhasilan-keberhasilan
apa yang telah dicapai.
D. Metode-Metode
Penilaian Kinerja
Dalam
penilian kinerja ada bebrapa metode antara lain sebagai berikut:
1. Rating
Scales, dalam metode ini orang yang memberikan penilaian diharuskan memberikan
penilaian terhadap kinerja individu dengan menggunakan skala angka yang
merentang dari rendah sampai tinggi.
2. Checklist,
metode ini penilai harus memilih pernyataan-pernyataan yang paling sesuai untuk
mendeskripsikan kinerja individu.
3. Paired
Comparison Method, dalam metode ini, semua pekerja dinilai secara bersama-sama
dengan teman-teman kerjanya yang lain untuk kinerja-kinerja tertentu. Setiap
individu akan dibandingkan dengan semua teman-teman kerjanya dan akan diketahui
siapa yang paling baik dan siapa yang paling buruk.
4. Narrative
Forms, adalah metode yang memungkinkan penilai memberiakan penilaian dalam
bentuk naratif atau esai tertulis.
E. Kesalahn-kesalahan
Dalam Penilaian Kinerja
Ada
beberapa kesalahan yang umunya sering terjadi ketika proses penilaian kinerja
berlangsung. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka hasil dari proses penilaian
kinerja ini akan tidak fair dan tidak objektif. Akibatnya informasi yang
didapatkan pun bisa saja menyesatkan dan malah menjadi kendala bagi perusahaan
itu sendiri (backfire).
Beberapa kesalahan yang
umumnya sering terjadi adalah:
·
Leniency, yaitu penilai terlalu murah
hati dalam memberikan penilaian sehingga dia cenderung memberikan nilai yang
bagus dan kurang objektif.
·
Strictness, ini adalah kebalikan dari
leniency yaitu penilai terlalu buruk memberikan penilaian sehingga cenderung
memberikan nilai yang jelek yang tidak objektif.
·
Personal prejudice/strereotyping, yaitu
penilaian yang tidak didasarkan atas kinerja individu tetapi didasarkan pada
kelompok tempat individu berasal
·
Recency Effect, kesalahan jenis ini
biasannya terjadi karena penilai memfokuskan diri pada perilaku kerja individu
yang paling akhir saja (recent), jadi tidak melihat perilaku individu secara
keseluruhan selama ia bekerja. Akibatnya, penilaian menjadi bias.
F. Kasus:
Evaluasi Kinerja Guru
Meminjam
pemikiranBoyd, Ronald T.C. (1989) dalam tulisannya tentang improving teacher
Evaluations, di bawah ini akan diuraikan tentang penilaian kinerja guru.
Penilaian kinerja guru seringkali di desain untuk melayani dua tujuan, yaitu
(1) untuk mengukur kompetensi guru (2) mendukung pengembangan profesioanal.
System penilaian kinerja guru hendaknya memberikan manfaat sebagai umpan balik
untuk memenuhi berbagai kebutuhan
dinkelas (classroom needs), dan peluang untuk mengembangkan teknik-teknik baru
pengajaran, serta mendapatkan saran (konseling) dari kepala sekolah atau guru
lainnya untuk membuat berbagai perubahan
di dalam kelas.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, seorang evaluator pertama kali harus dapat menyusun
prosedur spesifik dan menetapkan standar. Penetapan standar hendaknya dikaitkan
dengan :
·
Keterampilan –keterampilan dalam
mengajar
·
Bersifat subjektif mungkin
·
Komunikasi secara jelas dengan guru
sebelum evaluasi dilaksanakan dan ditinjau ulang setelah selesai dievaluasi,
dan
·
Diaktifkan dengan pengembangan
professional guru
Para
evaluator hendaknya mempertimbangkan aspek keragaman keterampilan pengajaran
yang dimiliki guru. Jika perlu evaluator menggunakan berbagai sumber informasi
tentang kinerja guru, maka mereka dapat memberikan penilaian secara akurat.
Beberapa prosedur yang
dapat digunakan oleh evaluator, diantaranya:
·
Mengobservasi kegiatan kelas (observe
classroom activities). Ini merupakan bentuk umum untuk mengumpulkan data dalam
menilai kinerja guru. Tujuan observasi
kelas adalah untuk memperoleh gambaran secara representative tentang kinerja
guru dalam kelas. Kendati dimikian, untuk memperoleh tujuan ini, evaluator
dalam menentukan hasil penilaian tidak cukup dengan waktu yang relative sedikit
atau hanya satu kelas. Oleh karena itu
observasi dapat dilaksanakan secara formal dan direncanakan atau secara
informal dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sehingga dapat diperoleh
informasi yang bernilai (valuable).
·
Menijau kembali rencana pengajaran dan
catatan-catatan dalam kelas. Rencana pengajaran dapat merefleksikan sejauh mana
guru dapat memahami tujuan-tujuan pengajaran. Peninjauan catatan-catatan dalam
kelas, seperti hasil test dan tugas-tugas merupakan indicator sejauh mana guru
dapat mengkaitkan antara perencanaan pengajaran, proses pengajarandan testing
(evaluasi).
·
Memperluas jumlah orang-orang yang
terlibat dalam evaluasi jika tujuan evaluasi untuk meningkatkan pertumbuhan
kinerja guru maka kegiatan evaluasi sebaiknya dapat melibatkan berbagai pihak
sebagai evaluator, seperti siswa, rekan sejawat, dan tenaga administrasi. Bahkan
self evaluation akan memberikan perspektif tentang kinerjanya. Namun jika untuk
kepentingan pengujian kompetensi, pada umumnyayang bertindak sebagai evaluator
adalah kepala sekolah atau pengawas. Guru-guru yang berkeinginan untuk
meningkatkan pengajarannya biasanya sangat berhasrat untuk memahami bagaimana
pandangan guru lain dan siswa terhadap dirinya. Memang, dalam proses evaluasi
pandangan-pandangan mereka yang terlibat dalam keseharian kirannya tidak bisa
diabaikan begitu saja.
Pelaporan
hasil evaluasi konferensi pasca observasi dapat memberikan umpan balik kepada
guru tentang kekuatan dan kelemahan. Dalam hal ini, bebrapa hal yang harus di
perhatikan oleh evaluator :
·
Penyampaian umpan balik dilakukan secara
positif dan bijak
·
Penyampain gagsan dan mendorong untuk
terjadinya perubahan pada guru
·
Menjaga derajat formalitas sesuai dengan
keperluan untuk mencapai tujuan-tujuan evaluasi (maintain a level of formality
necessary to achieve the goals pf the evaluation)
·
Mejaga keseimbangan antara pujian dan kritik
·
Memberika umpan balik yang bermanfaat
secara secukupnya dan tidak berlebihan.
G. Kaitan
Evaluasi Kinerja Dengan Pengembangan Profesi
Upaya untuk mengkaitkan evaluasi kinerja guru dengan
pengembangan profesi memang bukanlah pekerjaan yang gampang, baik untuk kepala
sekolah, evaluator dan terutama guru itu sendiri. Walaupun demikian, ada
beberapa jawaban yang sederhana bahwa evaluasi kinerja guru dapat digunakan
dalam : bekerja sama dengan guru-guru untuk menta secara khusus tujuan yang
dapat dicapai. Menyajikan kritik membangun dan dukungan memperbaiki kelemahan
dan mengembangkan kekuatan. Menginventarisasi guru-guru yang berpengalaman
untuk diminta bantuannya dlam meningkatkan kinerja guru-guru yang kurang
berpengalaman.
H. Pengertian Perencanaan Karir
Dalam istilah manajemen karir berarti :
1. Rangkaian kegiatan kerja terpisah tetapi
berkaitan, memberikan kesinambungan, keterntraman, dan arti dalam hidup
seseorang
2. Serangkaian pengalaman peran yang diurut
dengan tepat menuju kepada peningkatan tingkat tanggung jawab, status,
kekuasaan, imbalan, dan karier
3. Semua pekerjaan yang dikerjakan selama masa
kerja sekarang.
Perencanaan
karir merupakan suatu proses yang berkelanjutan di mana seorang individu
merancang sasaran karier dan mengidentifikasi semua sarana dan prasana untuk
mencapainya.
I. Cara pengelolahan Karir
Seorang ahli bimbingan
karier, John I. Holland (dalam Invancevich, 1992), telah mengadakan studi dan
mengemukakan bahwa pilihan karier adalah suatu kejadian yang bersifat random,
meskipun kesempatan dapat memainkan peran.
Praktik perencanaan
karier organasasional mencakup penyesuaian cita-cita karier individu dengan
peluang yang tersedia dalam organisasi, dan jalur karier adalah konsekuensi
dari pekerjaan tertentu yang dikaitakan dengan paluang tersebut (Ivancevich,
1992).
Jalur karier merupakan
serangkaian aktivitas pengembangan yang melibatkan pendidikan, pelatihan dan
penglaman kerja, baik secara formal maupun informal yang membantu membuat
seseorang mampu memegang jabatan atau pekerjaan yang lebih maju (Byars dan Rue,
1997).
Kerangka dari langkah
dasar dalam jalur karier adalah sebagai berikut :
1.
Menentukan atau menegaskan kemabali kemampuan dan perilaku akhir
dan pekerjaan target. Oleh karena pekerjaan cenderung untuk berubah terus,
adalah penting untuk menentukan atau menegaskan persyaratan dan mereviunya
secara periodik.
2.
Memelihara data karyawan untuk menjaga kelengkapan dan
akurasi data. Karena minat dan sasaran karier karyawan cenderung bergeser,
catatan-catatan individu berkaitan dengan keahlian, pengalaman dan sebagainya
perlu selalu diperbarui.
3.
Melaksanakan perbandingan analisis kebutuhan yang
secara bersama-sama melihat individu dan pekerjaan yang ditargetkan. Menentukan
apakah individu dan pekerjaan yang ditargetkan cenderung sesuai.
4.
Mengukur/mencocokkan cita-cita karier karyawan, kebutuhan
pengembangan, dan pekerjaan yang ditargetkan yang dituntut oleh manajemen
karier organisasional.
5.
Mengembangkan pelatihan kerja individu dan kebutuhan pendikan
dengan menggunakan orientasi aktivitas waktu. Mengidentifikasikan tindakan
individu (kerja, pendidikan dan pengalaman pelatihan) yang diperlukan individu
untuk kemajuan pekerjaan yang ditargetkan.
6.
Cetak biru aktivitas jalur karier. Ini proses menciptakan cetak
biru orientasi waktu atau bagan untuk memberikan panduan individu.
J. Memnghadapi Career
Plateu
Career Platue
didefinisikan sebagai suatu titik dalam suatu karier dimana kemungkinan
tambahan promosi secara hierarkis sangat rendah (Byars dan Rue, 1997).
Byars dan Rue (1997)
berpendapat, ada tiga tingkatan yang dapat membantu dalam mengelola proses
taraf tidak ada kemajuan dalam karier, yaitu:
1.
Melindungi karyawan
yang berada pada taraf tidak ada kemajuan dalam karier agar tidak masuk dalam
kategori tidak efektif
2.
Mengintegrasikan
system informasi yang berkaitan dengan karier yang relevan (meningktakan
monitoring sehingga kemunculan masalah dapat dideteksi dan ditangani lebih
awal)
3.
Mengelola
karyawan yang berada pada taraf tidak ada kemajuan karier yang tidak efektif
dan karyawan yang frustasi secara lebih efektif (obati masalah begitu muncul).
Byars dan Rue (1997),
mengemukakan minimal ada lima kemungkinan yang dapat dilakukan dalam rangka
rehabilitasi tersebut , yaitu :
·
Menyediakan alat
pengganti penghargaan.
·
Mengembangkan
cara baru untuk membuat pekerjaan mereka saat ini lebih memuaskan.
·
Revitalisasi efek
melalui penugasan kembali.
·
Memanfaatkan
program pengembangan secara mandiri yang didasarkan pada kenyataan.
·
Mengubah sikap
manajerial kearah peduli tehadap karyawan yang mencapai taraf tidak ada
kemajuan dalam karier.
K. Mengembangkan Karie
Pengembangan karier dapat didefinisikan
sebagai :
1.
Suatu usaha formal,
terorganisasi, dan terencana untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan
karier individu dan tuntutan angkatan kerja organisiasional
2.
Suatu usaha yang terus
menerus secara formal dilakukan oleh organisasi yang berfokus pada pengayaan
sumber daya manusia organisasi, dalam rangka memenuhi kebutuhan baik individu
maupun organisasi.
Aktivitas sumber daya
manusia tradisional lawan focus pengembangan karier
|
Aktivitas
|
Fokus Tradisional
|
Fokus Pengembangan Karier
|
|
Perencanaan
sumber daya manusia
Pelatihan
dan pengembangang.
Penilaian
kinerja.
Perekrutan
dan penempatan.
Kompensasi
dan kesejahteraan.
|
Analisis
pekerjaan, keahlian, tugas kini dan masa mendatang.
Proyeksi
kebutuhan.
Penggunaan
data statistik.
Member
peluang untuk belajar keahlian, informasi dan sikap yang berkaitan dengan
pekerjaan.
Menilai
dan atau member reward.
Menyesuaikan
kebutuhan organisasi dengan kualifikasi individu.
Reward
atas dasar waktu, produktivitas, bakat dan sebagainya.
|
Tambahan
informasi tentang interes individu, preferensi dan senang terhadap data.
Member informasi tentang jalur karier.
Menambah
orientasi pertumbuhan individu.
Menambah
rencana pengembangan dan perancangan sasaran individu.
Menyesuaikan
individu dan pekerjaan pada jumlah variable termasuk interes karier karyawan.
Menambah
aktivitas yang berkaitan dengan non pekerjaan untuk di reward.
|
L. Merancang Sistem
Pengembangan Karier
Menurut Bernardin dan
Russel (1998), suatu sistem pengembangan karier yang efektif harus berusaha
mengintegrasikan serangkaian perencanaan karier individual dan aktivitas
manajemen karier organisasional yang melibatkan karyawan, manajemen dan
organisasi.
Berbagai komponen
karier (aktivitas dan alat) tersedia untuk digunakan organisasi, meliputi :
1.
Alat-alat penilaian
sendiri (misal,workshop perencanaan karier, career workshop)
2.
Konseling individual.
3.
Servis informasi
(missal, system posting pekerjaan, inventori keahlian, tangga atau jalur
karier, pusat sumber karier dan format komunikasi lain).
4.
Program pekerjaan awal
(missal, program sosialisasi antisipatori, rekrutmen realistik, program
oreintasi karyawan).
5.
Program penilaian
organisasional (pusat penelitian, testing psikologis, perencanaan suksesi).
6.
Program bersifat
pengembangan (misal, pusat penialain, program rotasi pekerjaan, pelatihan
in-house, tuition-refund plands).
Menurut Byars dan Rue (1997), menyatakan bahwa
ada empat langkah dasar yang harus diikuti agar implementasi program
pengembangan karier berhasil , yaitu :
a) Penilaian individu
b) Penilaian organisasi
c) Mengomunikasikan pilihan karier
d) Bimbingan karier
Berikut adalah beberapa saran khusus, yang
dikemukan oleh Byars dan Rue (1997), untuk membantu para manajer agar dapat
pembimbing karier yang lebih baik, yaitu
1. Temukan batas-batas pembimbing karier.
2. Respect confidentiality.
3. Menjalin suatu hubungan.
4. Dengarkan secara efektif.
5. Mempertimbangkan altenatif.
6. Cari dan sebarkan informasi.
7. Bantu dengan mendifinisikan dan merencanakan
sasaran.
Mondy dan Noe (1996),
mengemukakan beberapa metode yang biasa digunakan oleh organisasi dan di
antaranya digunakan dengan berbagai variasi dan kombinasi, yaitu :
a)
Diskusi
atasan-bawahan.
b)
Bahan-bahan dari
perusahaan.
c)
Sistem penilaian
kinerja.
d)
Workshop
M.
Kasus dan iri hati
pengaruhi jenjang karier
Di lorong sebuah
hotel, Annisa, 26 tahun, bukan nama sebenarnya, menghentikan langkah tatkala
namanya dipanggil dengan lantang dengan rekan kerjanya, Rudi, juga bukan nama
asli. Wajah Rudi memerah, bibirnya bergetar. Rudi menyemprot Annisa dengan
sumpah-serampah.
Tentu saja Annisa
kaget. Gadis asal bekasi itu baru saja menyadari kemarahan rekannya karena
perbedaan pendapat saat rapat sebulan yang lalu. Saat itu Annisa yang gemar
bercanda, menyindir Rudi.
Terhadap kemarahan
Rudi, Annisa tidak terima karena ucapan tidak patut itu seolah merendahkan dia.
Menurut Annisa, respon Rudi berlebihan. “semua juga tahu sindiran itu hanya
bercanda,” ujarnya kepada Tempo, pekan
lalu. Annisa balik mengancam akan melaporkan sikap Rudi kebagian personalia.
Marah tidak banyak
memberikan dampak positif untuk karir. Menurut konsultan manajemen dari IM
Consulting, Iskandar, marah justru dapat berakibat karir mandek. “ tidak akan
masuk promosi jabatan,” ujarnya kepada tempo. Perusahaan tidak akan sembarangan
memberikan promosi jabatan kepada karyawan yang pemarah meski masa kerjanya
lama.
Karyawan dengan masa
kerja lama tentu memiliki segudang pengalaman dan kemampuan teknis yang terlatih.
Kemampuan teknis menjadi kriteria penting dalam menilai seseorang yang akan
dipromosikan. Tapi kemampuan non-teknis, kata iskandar juga tak penting.
Kemampuan ini mutlak
diperlukan pada jabatan yang memiliki anak buah. Sifat mudah marah pertanda ia
bukan pemimpin yang baik. “ salah satu cirri pemimpin adalah mampu memotivasi
anak buahnya”. “ marah-marah hanya membuat orang takut, bukan memotivasi,”
ujarnya.
Marah merupakan fitrah
manusia, tapi mudah marah merupakan perangai buruk. Bagaimana agak marah tidak
kerap datang? Iskandar menyarankan, ubah cara pandangan terhadap persoalan yang
sering membuat marah. Memperbaiki komunikasi serta berkosultasi dengan psikolog
merupakan beberapa cara menghambat amarah cepat dating.
Selain marah, sifat
iri hati merugikan diri sendiri, bahkan rekan kerja. Iri dan takut kariernya
didahului oleh yang lebih muda, misalnya seperti yang dialami Ratna, 36 tahun,
seorang pegawai negeri sipil di sebuah institusi kesehatan. Ratna, menurut
rekannya, Irawati, 36 tahun, nyaris menjadi korban iri hati sang atasan.
Irawati dan Ratna akan
melanjutkan sekolah ke jenjang strata dua (S-2). Salah satu tujuannya adalah
ingin naik gaji. “kalau gelar bertambah, golongan naik, otomatis gaji naik,”
ujar Irawati. Saat Ratna mengurus pemberkasan izin sekolah, kata Irawati, ia
kesulitan mendapatkan tanda tangan atasan, tanpa sebab. Beruntunglah Irawati,
yang tidak bernasib buruk seperti Ratna karena berbeda atasan.
Ibu dua anak itu
menceritakan kisahnya kepada atasan yang lebih tinggi. Wsetelah diusut, rupanya
atasan Ratna merasa iri hati karena ia belum mengenyam bangku kuliah S-2. Hal
itu terbukti setelah Irawati dan Ratna akhirnya diizinkan untuk kuliah, sang
atasan mengajukan cuti untuk kuliah S-2. “ mungkin golongannya (jenjang karir)
tidak mau dilewati kami,” ujar Irawati.
Pakar psikologi klinis
dari Iconwork, Dinding Supendi, mengatakan iri hati merupakan sikap mental dari
mrasa frustasi. Seharusnya rasa frustasi dapat diarahkan pada sikap uang
positif. Dinding mencontohkan, apabila seseorang merasa karirnya mandek, tak
perlu iri hati. “ jadikan hal itu pelajaran sehingga muncul instropeksi,” ujar
Dinding.
Mengubah dan
menghilangkan sifat mudah marah serta iri hati bukan kewajiban karyawan itu
sendiri. Menurut Iskandar, perusahaan yang baik seharusnya membantu karyawan
keluar dari polemik batin ini. Memang perusahan akan merasa rugi mendapatkan
karyawan seperti itu. Meski merasa kebobolan, perusahaan tak perlu mengambil
keputusan ekstrem, yakni memecat karyawan. Toh, karyawan yang “sakit” ini masih
punya kelebihandi bidang lain. Kalau tidak ada, “ lebih baik diikutkan
pelatihan,” ujar Iskandar.
Latihan yang tepat
untuk karyawan yang mengidap “penyakit” itu adalah pelatihan kecerdasan emosi
dan spiritual. Perusahaan tak perlu tergesa-gesa berharap karyawan cepat
“sehat”. Membuat target dan indikator keberhasilan untuk si karyawan lebih
realistis. Namun, jika segala cara telah diupayahkan tapi hasilnya nihil.
Perusahan perlu memberi ancaman, misalnya tidak naik gaji atau pemecatan. “tapi
ini senjata pamungkas,” kata Iskandar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perencanaan
menajemen kinerja merupakan hal yang
perlu di perhatikan oleh perusahaa. Hal ini karena perencanaan managemen
kinerja ikut menentukan keberlangsungan
perusahaan, dengan adanya perencanaan manajemen kinerja pengelolaan manajemen
dalam sebuah perusahaan dapat dikelolah dengan baik. Hal ini tentu saja dapat
sangat mendukung pengembangan karier setiap individu yang bekerja di dalam
perusahaan.
B.
Saran
Ada
beberapa peran yang bisa dilakukan oleh perusahaan dalam proses perencanaan
karir para pekerjanya, diantaranya:
·
Menyediakan
pusat pelayanan karier yang bisa diakses oleh para pekerja untuk berkonsultasi
mengenai pengembangan karier mereka.
·
Menyediakan
career coach yang berperan sebagai konselor bagi para pekerja guna membantu
mereka merencanakan kariernya.
Daftar
Pustaka
http://dwiiba.wordpress.com/manajemen-kinerja/
Hanggreani, Dewi. 2012.
Manajemen Sumber Daya Manusia. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

No comments:
Post a Comment